Mundo ficciónIniciar sesiónDi sebuah hotel bintang lima di pusat kota Ashford Falls, malam sudah larut.
Dominic berdiri di luar jendela kamar tidurnya, menatap gemerlap lampu kota di bawah. Segelas wiski di tangannya sudah setengah kosong. Matanya yang gelap tampak kehilangan fokus; pikirannya melayang ke tempat lain. Ke rumah sakit. Ke Bella. Ke Lucas.
Telepon di meja samping tempat tidur berdering. Dominic berjalan mendekat dan mengangkat gagang telepon.
-Ya?
"Pak, ini Rico," suara di ujung telepon terdengar tegas. "Ada berita tentang Bella."
Dominic menegang. Tangan yang memegang gelas wiski tiba-tiba berhenti. "Apa yang terjadi?"
—Bella dirawat di rumah sakit, Pak. Dokter mendiagnosisnya menderita anemia berat. Dia sedang menerima transfusi darah dan perawatan intensif.
Dominic tetap diam. Ia merasakan sesak di dadanya. Mata gelapnya menyipit.
"Anemia berat?" Dominic mengulangi dengan suara lirih. "Apakah ini berbahaya?"
"Menurut informasi yang saya terima, kondisinya serius. Tetapi dokter mengatakan masih bisa diobati. Bella harus tetap dirawat di rumah sakit selama beberapa minggu."
Dominic menghela napas. Dia menggenggam gelas wiski begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih karena tekanan.
"Di mana Christian?" tanya Dominic.
—Christian sedang di rumah sakit, Pak. Dia menemani Bella setiap malam. Tapi kadang-kadang dia pulang untuk merawat Lucas.
Dominic mengangguk perlahan. "Sempurna. Ini kesempatan kita."
-Tuan?
"Awasi Bella dari jauh, Rico. Saat Christian tidak bersamanya, aku akan pergi mengunjunginya."
—Baik, Pak.
Panggilan berakhir. Dominic menutup telepon, meneguk wiski terakhir kalinya hingga gelas kosong, lalu meletakkannya di atas meja di samping telepon.
Bella sedang sakit. Bella lemah. Bella membutuhkan dukungan.
"Aku akan pergi. Aku akan menemuinya. Aku akan berbicara dengannya."
"Tapi kali ini, aku tidak akan menekannya. Aku tidak akan menakutinya. Aku hanya akan berada di sana. Untuknya."
"Dan mungkin, melihat kerentanan yang dialaminya, dia akan bersedia mendengarkan saya."
Dominic berjalan kembali ke jendela, menatap langit malam yang gelap.
"Bella, tunggu aku. Aku datang. Aku akan bersamamu. Aku akan membantumu pulih."
"Dan begitu kamu sehat, kita akan bicara tentang Lucas. Tentang tes DNA. Tentang kebenaran."
"Karena Lucas adalah putraku. Dan aku akan membuktikannya."
Keesokan harinya, Christian terpaksa pulang ke rumah untuk merawat Lucas.
Doña Sofía telah merawatnya sepanjang malam, dan wanita tua itu perlu istirahat. Christian juga perlu mengganti pakaian dan mandi. Dia berjanji pada Bella bahwa dia akan segera kembali.
"Aku akan segera kembali, Bella," kata Christian sambil mencium keningnya. "Istirahatlah. Jangan khawatir tentang apa pun."
—Aku baik-baik saja, Christian. Pergilah. Lucas membutuhkanmu.
—Ya. Aku tidak akan lama.
Christian meninggalkan ruangan, membiarkan Bella sendirian.
Bella berbaring di tempat tidur, pandangannya tertuju pada langit-langit putih yang bersih. Mata cokelat gelapnya tampak kusam, dan tubuhnya yang kecil dan kurus terbaring lemah di bawah selimut tipis. Jarum infus masih menancap di lengannya, memasukkan cairan dan obat-obatan ke dalam tubuhnya.
Dia memejamkan mata, mencoba untuk tertidur.
Namun sebelum ia sempat tertidur, pintu kamar tidur perlahan terbuka.
Bella membuka matanya. Tatapan cokelat gelapnya melebar karena terkejut.
Dominic sedang berdiri di ambang pintu.
"Dom?" bisik Bella, tak percaya dengan apa yang terjadi. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Dominic mendekat, duduk di kursi di samping tempat tidur Bella. Wajahnya yang tampan, dengan garis rahang yang tegas dan hidung yang mancung, tampak lebih lembut dari biasanya. Mata gelapnya menatap Bella dengan tatapan penuh kekhawatiran.
—Aku dengar kau sakit, Bella. Aku ingin menjengukmu.
—Bagaimana kamu tahu?
—Aku punya seseorang yang mengawasimu.
Bella menghela napas. "Dom, kau tidak perlu..."
—Tapi aku ingin melakukannya, Bella.
Dominic menggenggam tangan Bella yang dingin dan ramping. Jari-jarinya yang panjang dan hangat dengan lembut membalut tangan Bella.
"Aku khawatir tentangmu, Bella. Aku tidak ingin kau sakit. Aku tidak ingin melihatmu menderita."
-Matahari...
—Bella, aku tahu kau tidak suka aku datang. Tapi kumohon, kali ini, dengarkan aku.
Bella tetap diam.
“Lucas,” lanjut Dominic, suaranya melembut. “Aku yakin Lucas adalah putraku. Tapi aku tidak akan memaksamu untuk mempercayaiku. Aku hanya meminta satu hal: lakukan tes DNA. Demi Lucas. Agar Lucas tahu siapa ayah kandungnya.”
-Matahari...
—Bella, Ibu tidak akan mengambil Lucas darimu. Ibu juga tidak akan menjauhkanmu dari Christian. Ibu hanya ingin tahu yang sebenarnya. Dan setelah itu, terserah kamu mau melakukan apa.
Bella menatap Dominic. Mata cokelat gelapnya berkaca-kaca.
—Dom, aku tidak mau...
—Bella, kumohon. Pikirkan tentang Lucas. Lucas berhak tahu siapa ayahnya. Lucas berhak tahu asal-usulnya. Lucas berhak…
-Matahari.
Bella menyela perkataannya. Suaranya hampir tak terdengar, namun terdengar tegas.
—Aku akan mempertimbangkan tes DNA.
Dominic berkedip, terkejut. "Benarkah?"
—Ya. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Pertama-tama aku harus bicara dengan Christian.
Dominic menghela napas lega. "Aku mengerti. Aku akan menunggu."
Dominic mencium punggung tangan Bella lalu berdiri.
—Aku pergi sekarang. Tapi aku akan kembali. Untuk mencari tahu apa keputusanmu.
Bella mengangguk sedikit.
Dominic berjalan ke pintu, berbalik sekali lagi dan menatapnya dengan mata penuh cinta.
—Jaga dirimu baik-baik, Bella. Aku sayang kamu.
Dominic meninggalkan ruangan.
Bella berbaring telentang di tempat tidur, menatap pintu yang tertutup.
"Dom datang. Dom meminta saya untuk melakukan tes DNA. Dom bilang dia mencintai saya."
"Apa yang harus saya lakukan?"
"Haruskah aku melakukan tes DNA itu? Haruskah aku mencari tahu kebenarannya?"
"Dan jika Lucas ternyata benar-benar putra Dom... apa yang akan terjadi pada keluargaku?"
Bella memejamkan matanya. Setetes air mata mengalir di pipinya.







