Bab 242. Rahasia Harapan
Malam ini, kami benar-benar meletakkan ego masing-masing. Kami menyamakan pandangan hanya tertuju pada satu titik, kebahagiaan Wisnu.
“Jadi kita sekarang akur, ya?” Mas Bram menunjukkan kelingkingnya sambil tersenyum.
Aku menyambut senyumannya sambil berujar, “Ya. Kita akur sebagai kawan lama.”
“Tidak dilebihin sedikit?”
“Mas Bram! Jangan mulai lagi!” seruku sambil melotot.
Dia tertawa, kemudian menyodorkan piring kosong kepadaku. “Tanda kita akur sebagai kawan lama, bisa minta tolong ambilkan