Bab 192. Keinginan Suami
“Mas Suma yakin dengan rencana ini?” tanyaku sambil merapikan kemeja yang dia kenakan.
Suamiku ini tersenyum, kemudian menangkup wajah ini, merapikan rambutku dan mengaitkan di telinga.
“Ini wujud dukungan suami ke istri yang sudah bersemangat lagi, Ran. Ini bukan membicarakan nominal uang, tapi anugrah yang diberikan kepada kita. Materi tidak artinya tanpa kamu yang kembali seperti dulu lagi.”
“Bukannya perusahaan juga membutuhkan dana yang besar? Jangan masalahku menjadi beban bertambah lagi.