"Tidur yuk, udah malam."
"Ya."
Sehari penuh bersama, malam ini pun saat semua terlelap keduanya masih saja bersama.
"Ya, udah, Mas ngapain ngikutin Kinanti ke kamar?" Telunjuk Kinanti menunjuk ke arah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat.
Adam menyadari kebodohannya, sulit sekali untuk beranjak dari Kinanti.
"Kenapa?"
Keduanya berada di depan pintu kamar Kinanti, berdiri dengan berdebat kecil dan nada bicara yang pelan.