“Itu saja?” ucapku sambil memindai raut wajahnya yang menunjukkan keyakinan.
Wanita memang makhluk yang sudah dimengerti. Selalu memberikan perlambang yang sering membuatku sakit kepala. Aku tidak ingin terjebak dengan penafsiranku yang keliru. Lebih baik aku tanyakan secara jelas, mengurangi prosentase salah.
“Iya. Mas Bram keberatan? Atau masih ….”
Aku tertawa sambil mencolek hidungnya yang mancung.
“Selalu seperti itu. Cemburu dengan orang yang sudah menjadi milik orang lain.”
Dia cemberut.