Bab 411. Kawatir
Dulu aku sering kesal kalau Ibuk selalu memberiku wejangan ini itu yang diulang-ulang. Apalagi saat tahu aku berhubungan dengan Mas Bram tidak sekadar teman.
“Ibuk tidak percaya dengan Rani? Saya itu sudah besar dan tahu mana yang benar dan salah. Tidak mungkin Rani menghancurkan masa depan,” ucapku saat itu. Kala itu aku dan Mas Bram masih sama-sama kuliah.
Namun, namanya seorang ibu tidak berhenti, justru bertambah dengan nasehat yang lain-lain.
“Nduk. Ibuk ini kawatir. Jaga sikap dan lisan.