Bab 355. Rayuan Gombal
“Mama kenapa?” Suara Wisnu mengagetkan aku. Segera, kertas yang membuat jantung berdegub kencang ini aku lipat dan kumasukkan ke saku.
Aku menoleh, dan mendapati anak lelakiku menekuk tubuhnya dengan bertumpu ke kedua lutut. Napasnya terengah-engah dengan keringat bercucuran.
“Biasanya pagi-pagi kuliah atau ada kegiatan kampus. Nah sekarang di rumah, mata mengajak tidur terus,” keluhnya tadi pagi sebelum bersiap.
Dia pagi-pagi sudah olah raga keliling komplek. Katanya, ini untuk tetap menjag