Bab 173. Meeting
Rasa terkejutku belum mereda, sudah ada pesan yang masuk kembali. Secepatnya aku membuka pesan yang masuk, mungkin pesan lanjutan dari pengirim gelap itu. Ternyata pesan dari Mas Suma.
[Ran, aku tidak bisa ke sana. Ada meeting penting dari penanam modal.]
[I Love You]
Seketika otakku bergulir liar. Satu persatu peristiwa tergabung dengan penghubung sebab akibat. Pengalaman buruk saat perkawinanku yang pertama dengan Mas Bram, mencuat kembali. Dia pun dulu memberikan alasan yang sama, meeting be