Bab 172. Cemburu
Di layar ponsel, terlihat wajah Mas Suma yang memberiku tatapan menyelidik. Aroma kecurigaan menguar dari sorot matanya. Kalau sudah seperti ini, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.
“Tadi di sana aku juga bertemu teman SMP. Kebetulan dia yang bertanggung jawab pada pengusaha kecil di kampung,” jelasku, tetapi tidak merubah ekspresinya yang masih kaku.
“Lalu?” ucapnya dengan masih terdengar nada datar.
“Pertemuan tadi, aku hanya sharing pengalaman saja sama para pengrajin. Didampingi W