"Ada-ada saja," umpat Fikri kemudian menutup pintu dan menguncinya dengan segera.
Glek!
Mentari meneguk saliva saat kunci pintu kamar berhasil di putar oleh Fikri.
Seketika Fikri pun menatapnya, berjalan ke arahnya dan melingkarkan tangannya di pinggang Mentari.
"Fikri, aku," Mentari berusaha untuk mencari alasan, berharap bisa menghindari malam ini.
Bukan Mentari tidak mau, hanya saja dirinya masih malu.
"Apa?" Bisik Fikri dengan parau di telinga Mentari.
Lagi-lagi Mentari menegang merasakan n