Bab 608. Sahabat yang Meresahkan
Sempat terlintas itu dia. Dari kebiasaannya menaiki tangga dengan langkah tergesa. Ternyata perkiraanku benar. Dia yang menjulang menyajikan senyuman lebar yang menyisakan mata tinggal segaris. Walaupun rambut panjang yang menjadi kebanggaannya dipapras habis, tapi dia tetap memukau.
“Aku tidak menyangka menemuimu di sini. Padahal aku iseng mampir, ternyata ada seseorang yang memanggil dalam hati. Iya, kan?”
“Huh! Pak Tiok GR!” seruku sambil menerima nampan yang dia ulurkan. Untung saja bartend