Bab 558. Berdamai Dengan Rasa Bersalah
“Tapi aku puas, Pi!’ ucap Wisnu. Dia memperbaiki bebatan pembalut kasa di telapak tangannya. Buku jari yang terluka tadi berdarah kembali. Seorang petugas menyodorkan obat antiseptik kepadanya yang duduk di bangku.
“Perih?”
“Tidak seperih hati ini, Pi,” jawabnya sambil menengadahkan kepala ke arahku yang berdiri di depannya.
Wajahnya masih kusut. Ada percikan dendam di matanya. Peristiwa ini tidak hanya membawa trauma kepada Rima dan Amelia, tetapi juga mereka yang merasa bersalah. Seperti Wisn