Bab 430. Keliru Yang Menyesakkan
Aku tercekat, menatapnya dengan percaya, tidak percaya. Bingung.
"Mas Suma? Kok ada di sini?" tanyaku dengan kesadaran belum pulih benar.
Baru saja aku mendengar musibah yang menimpanya, sekarang dia berdiri dengan senyum yang mengembang.
Serta merta, aku bergegas mengitari sofa penghalang kami. Menghambur ke dalam pelukannya dan menuntaskan tangisan yang terjeda tadi.
"Rani. Aku tinggal sebentar saja kok kamu sampai menangis seperti ini, ya? Ayok, kita duduk saja. Aku pegal," ucapnya sambi