Bab 408. Terhubung
“Kak. Bagaimana? Cerita, dong.” Amelia sudah menghadang di depan pintu. Dia senyum-senyum dengan alis mata yang digerak-gerakkan ke atas.
‘Ngeselin!’
“Apaan, sih. Anak kecil tidak boleh kepo! Nih, pesenanmu.”
Satu kantong berisi makanan pesanannya, aku serahkan. Matanya langsung berbinar dan senyumnya merekah sempurna. Dengan cepat, kantong berpindah tangan. Dia menghidu dalam-dalam sambil memejamkan mata, saat tas berisi makanan dibuka. Aroma pizza dan ayam goreng, menyeruak keras, dan terseli