Bab 382. Waktunya
Wajah Mami terlihat ceria dia layar ponsel. Dia sedang memainkan piano, dengan ponsel dijapit di standing holder. Untung ada Maharani, dia dengan sigap menghidupkan lampu sebelum aku menerima panggilan ini.
Pikiranku yang sudah dipenuhi prasangka ternyata meleset. Mami tidak mempertanyakan titipan, dia justru memamerkan lagu ciptaannya. Jemari menari dengan lincah, dan wajah Mami yang menyiratkan senyuman membuat hatiku ikut merasa bahagia.
“Bagus?”
“Bagus, Mami.” Aku dan Maharani tepuk tangan