Bab 302. Keraguan
Baru kali ini, ketukan pintu membuatku jengkel setengah mati. Seperti kita sedang asyik menuju puncak, tetapi dipaksa untuk turun. Kesal, kan?
“Sabar…,” ucapnya seraya menepuk dada ini.
Maharani mengusap bibirku. Setelahnya, menunjukkan jari yang ternoda dengan lisptik. Matanya mengerling seakan menunjukkan keberhasilan menjahiliku. Bibir yang warna lipstiknya sudah pudar karena ulahku, tersenyum sebelum dia membalikkan badan.
“Mau kemana?”
“Buka pintu, lah. Kan Mas Suma kunci.”
Sekarang berga