Bab 262. Lelah
Lelaki yang menjadi tumpuanku justru beringsut menjauh, berujung tangan ini menemui ruang kosong. Mataku yang sudah terpejam karena menahan kepala yang berputar, hanya pasrah saat tubuh ini terhunyun.
“Kenapa?”
Tangan besar menangkap kedua lengan ini. Dan, saat kubuka mata wajah menyiratkan kecemasan terpampang di sana. Segera aku menegakkan diri sambil menekan pelipis yang berdenyut.
“Tidak apa-apa, Pak Tiok. Mungkin karena lelah dan masih mengantuk. Saya ke toilet dulu,” ucapku kemudian berge