Bab 223. Calon Mertua Tiok
Laki-laki menyunggar rambutnya ke belakang. Cara duduknya menyiratkan kegelisahannya.
Aku tidak pernah mendapati seorang Prasetyo bersikap seperti ini. Hilang, dia yang biasanya optimis dan bersemangat. Kedua kakinya yang panjang menopang kedua tangannya yang terkulai dengan kepala menunduk lunglai. Kepalanya dibebat dengan noda darah di bagian dahi.
“Tiok, gimana cerita kok sampai begini?” Mas Suma yang mendahuluiku langsung menghampirinya. Seperti tanaman layu yang mendapatkan air, dia langsu