Bab 21. Mama is Back
Pertemuan dengan Mas Bram menguras seluruh tenaga dan emosiku.
Aku lelah.
Sekaligus lega.
Semua yang terpendam, termuntahkan semua. Kami berdua berusaha berdamai dengan takdir. Jalan ini, pasti yang tertepat. Mas Bram pun, bisa menjalani hidup tanpa ada bayang-bayang rasa salah ataupun sesal. Aku tahu, dia laki-laki baik. Keluarga barunya pun, pasti berharap memilikinya dengan utuh.
Semoga bahagia.
Aku sudah iklas menerima apa yang sudah terjadi. Itu adalah masa lalu yang sudah menjadi surata