Bab 200. Menyerah?
Sesaat kami saling pandang dengan menajamkan mata. Kami seperti dua kucing betina yang siap menerkam untuk menunjukkan ketajaman cakar yang mulai gatal.
Wajahnya yang putih mulai mengeras. Kedua alis matanya pun mulai bertaut. Namun, aku sambut dengan senyuman dan kedipan mata.
Bukankah ini perlawanan yang elegan? Membuat lawan menyerah pada kekesalan, hanya dengan senyuman?
“Bu Rani.”
Suara pelan Claudia mengingatkan aku pada permintaannya tadi. Ada nada kekawatiran di sana. Pasti dia takut k