Bab 177. Terserah
“Kamar hotel..,” gumam Mas Suma lirih.
“Iya, kamar hotel. Sekarang Mas Suma ingat, kan?” sahutku dengan melempar senyuman sinis. Pasti ingat, lah. Bagaimana rasanya pun pasti masih lekat di ingatan.
Melihat dia yang terdiam termangu, aku semakin yakin kalau sekarang Mas Suma berpikir keras untuk mengingkarinya. Secepatnya aku beranjak dari duduk. Berlama-lama dengan penghianatan membuatku semakin mual.
“Ran, tunggu!” ucapnya sembari mencekal tangan ini, dan aku pun terduduk kembali.
“Apalagi