Bab 155. Perhatian Terselubung
Aku tidak mau sahabatku ini terjebak kembali dalam perasaan yang tidak mungkin berbalas. Bagiku, Pak Tiok tidak sekadar sahabat, tetapi sudah seperti saudara.
“Pak Tiok ….”
“E, maksudku. Saya tetap perhatian kepadamu,” ucapnya sambil memutar kepala ke arahku. “Bukankan kita. Maksud saya, kamu, Pak Kusuma, dan anak-anak sudah menjadi lebih dekat? Kalian sudah aku anggap saudara sendiri. Kamu tahu kan, aku tidak punya saudara.”
“Oh, begitu,” ucapku dengan lega dan kembali menyeruput kopi sampai t