Bab 143. Aku Iklas, Mas Suma
Aku pun semakin membenamkan kepalaku ke dalam pelukannya.
Mas Suma, suamiku.
I love you
*
"Mas Suma ... aku sakit apa?" tanyaku melihat raut kegusaran diwajahnya.
Dengan kedua tangannya dimasukkan di saku celana, dia mondar-mandir dari kamar rawatku ke ruang tamu, atau berkeliling di kamar dengan sesekali melongok ke luar jendela. Tidak mungkin dia menantikan sesuatu, karena kamar ini terletak di lantai lima. Kebiasaan lamanya mulai muncul lagi. Biasanya, dalam keadaan ini aku akan membuatk