Perlahan kaki Renata melangkah masuk, kedua tangannya menggantung terkepal erat, seiring emosi dan air mata yang mulai membuncah.
"Apa ini?" Lirih Renata dengan perasaan hancur, "kau memanggil suami ku siapa tadi?" Renata berharap telinganya salah mendengar, hingga ia ingin Kinanti mengulangi lagi.
"Jawab!!!"
Kinanti terdiam, tidak ada kalimat penjelasan untuk semua ini. Sekeras apapun berusaha membela diri tidak mungkin bisa di anggap benar.
"Dasar wanita rendahan!"
Plakkk!!!
Tangan Renata lan