"Semangat Kakandaku," Nada terus saja memberikan semangat pada Tama.
Meskipun sebenarnya Tama sudah sangat kelelahan, jangankan untuk setengahnya terkuras. Untuk seperempat dari isi kolam juga belum ada.
Padahal hari sudah malam, perasaan Tama benar-benar kacau karena memikirkan Nada yang mungkin nantinya sulit untuk bersatu.
"Tama, ayo makan malam," Kinanti pun menghampiri Tama, merasa kasihan pada calon menantunya tersebut.
"Iya, Bunda. Tapi, bajunya basah. Biarkan saya di sini saja," kata Ta