Renata terbangun di tengah malam saat lelapnya mata terpejam, melepaskan diri dari pelukan Zidan dengan perlahan.
Kemudian berjalan menuju dapur dengan terseok-seok, dinding menjadi pegangan menuntun diri menuju dapur.
Peluh kian membanjiri, seiringan rasa sakit yang kian semakin menjadi-jadi.
Akhirnya setelah berusaha susah payahnya Renata pun berhasil sampai di dapur, meneguk mineral dengan sebanyak mungkin.
Berharap bisa meredamkan rasa sakit yang belum juga bisa berhenti.
"Sssstttt," Renata