Adam memeluk Kinanti dengan rasa haru, untuk kedua kalinya merasa kecewa pada dirinya sendiri.
Bahkan di saat sudah berusaha untuk menjadi suami terbaik malah istrinya tetap harus melahirkan secara prematur.
Sejak kembali dirinya terus memeluk Kinanti, hatinya masih berkecamuk.
"Mas, Kinan nggak papa," Kinanti menunjukkan dirinya yang sudah lebih baik, walaupun masih lemah dan sedikit sulit bergerak.
Paling tidak dirinya sudah baik-baik saja, tanpa ada yang perlu di khawatirkan.
"Mas minta maaf