Setelah keluar dari ruangan direktur utama Kinanti terlihat biasa saja, awalnya memang cukup shock tapi tak lama kemudian kembali santai mengingat Adam hanyalah sebuah masa lalu.
Tidak ada kesedihan dan juga luka seperti dulu. Fikri adalah semangat baginya. Kini segalanya hanya untuk Fikri tak ada yang lain.
"Kinanti, tolong belikan aku kopi, di restoran depan rumah sakit," pinta Dokter Zidan.
"Iya, Dok. Sekalian saya mau makan siang, ijin ya, Dok."
"Iya, tapi, jangan lupa pesanan ku."
Kinanti