Mundo ficciónIniciar sesiónPOV Mathilda
Terjebak di dalam mobil dengan tatapan sinis Fredric yang terus tertuju padaku membuatku sulit bernapas. Belum lagi pikiranku dipenuhi bayangan ayahku yang sedang sakit. Kenapa masa mudaku harus seburuk ini?
“Kamu tidak apa-apa, Mathilda?”
Satu-satunya hal yang sedikit menenangkanku adalah sikap ramah dan senyum hangat Nyonya Rosa.
“Aku tidak tahu, Nyonya Rosa… aku masih memikirkan ayahku…”
“Cengeng.”
Sungguh, aku ingin sekali memukul kepala Fredric. Dia benar-benar membuatku semakin buruk. Apa dia tidak bisa menunjukkan sedikit empati saja?
“Fredric, jaga sikapmu,” tegur Nyonya Rosa, lalu menatapku lagi. “Lebih baik kamu menginap dulu di rumah utama. Biarkan ayahmu dirawat oleh perawat yang bertugas. Kita akan memastikan ayahmu pulih sepenuhnya.”
Aku tidak bisa menahan air mata yang akhirnya jatuh di pipiku. Baru dua bulan sejak ibuku meninggal, kondisi ayahku sudah memburuk seperti ini. Kenapa semuanya harus terjadi begitu cepat?
“Tenanglah, Mathilda. Semua akan baik-baik saja. Aku akan berusaha agar ayahmu pulih. Perawatan yang dia jalani sekarang ditangani oleh dokter keluarga kami. Kamu harus kuat.”
Nyonya Rosa menggenggam tanganku. Sentuhannya membuatku semakin merindukan Mama. Andai saja Mama masih ada… mungkin semua ini tidak akan terasa seberat ini.
“Sudahlah, berhenti menangis. Sebentar lagi kita sampai. Jangan cuma menangis saja; wajahmu jadi berantakan, apalagi dengan air mata dan hidung merah—AU!”
Nyonya Rosa langsung menampar mulut Fredric. Aku tidak tahu harus tertawa atau tidak. Tapi setidaknya… itu cukup mewakili perasaanku yang sejak tadi ingin memukulnya.
**
Meja di hadapan kami dipenuhi berbagai macam makanan dan minuman mahal. Namun, nafsu makanku sama sekali tidak ada. Aku hanya ingin cepat pulang dan melihat ayahku.
“Mathilda, makanlah, sayang. Jangan sampai dua orang sakit sekaligus. Percayalah, ayahmu akan segera pulih,” kata Nyonya Rosa lembut.
Aku tidak sanggup menolak kebaikan dan tatapan penuh kasih darinya. Dengan ragu, aku menarik piring pasta di depanku.
“Nenek, maksudmu apa?” tanya Fredric.
Ya… aku juga bertanya-tanya kenapa Nyonya Rosa mengajak kami bertiga makan malam seperti ini.
“Kurasa kita bicarakan setelah makan saja. Nikmati dulu makanannya.”
“Kenapa harus nanti? Kita bukan keluarga yang diam saat makan, kan? Keluargamu seperti itu, Mathilda?” ujar Fredric sinis sambil menatapku.
Aku menelan ludah. Wajahnya benar-benar dingin, tanpa sedikit pun kehangatan. Orang yang selama ini kukagumi… ternyata tidak lebih dari seseorang yang kejam.
“Menurutku Tuan Fredric benar, Nyonya Rosa. Lebih baik Anda katakan sekarang.”
Nyonya Rosa tersenyum lebar. Dari ekspresinya, seolah dia ingin menyampaikan kabar bahagia. Dia menyeka mulutnya dengan serbet, menyesap anggur, lalu menatap kami bergantian.
Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan… tapi entah kenapa firasatku tidak enak.
“Ayo, Nek. Jangan buat aku penasaran dengan senyummu itu.”
“Aku ingin kalian berdua menikah.”
Jantungku seperti berhenti berdetak.
Itu… kalimat paling mengejutkan yang pernah kudengar.
“Apa?!” seruku bersamaan dengan Fredric.
“Pelankan suara kalian. Itu sebabnya aku ingin membicarakan ini setelah makan. Jangan mempermalukanku, orang-orang sudah mulai melihat ke sini.”
Fredric langsung berdiri dan menggeleng. “Aku tidak tahu apa maksudmu, Nek. Tapi aku tidak suka lelucon seperti ini. Aku tunggu di mobil.”
Dia pergi begitu saja.
Aku hanya bisa diam.
Nyonya Rosa masih tersenyum, seolah semuanya baik-baik saja. Sementara aku… tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
“Mathilda… kemarilah.”
Dia memintaku mendekat. Tubuhku terasa kaku, tapi aku tetap melangkah perlahan. Aku butuh penjelasan.
“Pertama, aku minta maaf atas sikap Fredric. Dia memang sering kasar. Nanti akan aku bicarakan dengannya. Tapi seperti yang kamu dengar… aku ingin kamu menikah dengannya.”
Aku terdiam.
Menikah… dengan Fredric?
Bahkan tanpa sikap dinginnya pun, aku tidak pernah membayangkan hal itu. Aku memang mencintainya… tapi menikah tanpa cinta darinya?
Itu terdengar seperti mimpi buruk.
“Selagi kamu bekerja tadi, aku sudah membicarakan ini dengan ayahmu,” lanjutnya. “Aku harap kamu tidak berpikir aku memanfaatkan kondisi ayahmu. Aku hanya… semakin tua. Aku ingin melihat Fredric menikah dengan wanita yang aku percaya. Dan menurutku… kamu orang yang tepat.”
Aku menunduk.
Dadaku terasa sesak.
“Fredric seperti sekarang karena pengaruh ayahnya. Dia hanya bermain-main dengan wanita. Aku tidak ingin dia menikahi wanita yang hanya menginginkan hartanya. Tapi kamu berbeda. Kamu tulus. Keluarga kita sudah saling mengenal selama puluhan tahun.”
Tangannya menggenggam tanganku lebih erat.
“Ayahmu juga setuju. Dia khawatir dengan masa depanmu… apalagi dengan kondisinya sekarang. Jadi… aku harap kamu bisa mengerti, Mathilda.”
Aku mengangkat kepala perlahan.
“Tidak ada cinta di antara kami, Nyonya Rosa… Tuan Fredric mencintai wanita lain.”
Akhirnya aku berani bicara.
Ini satu-satunya cara agar dia mengerti.
“Cinta bisa tumbuh seiring waktu,” jawabnya tenang. “Fredric hanya terkejut. Nanti aku akan bicara dengannya. Jangan khawatir.”
Aku tahu… percuma.
Dia tidak benar-benar mendengarkanku.
Fredric tidak akan pernah mencintaiku.
Baginya, aku hanya wanita biasa… bahkan mungkin memalukan.
“Baiklah, kita lanjutkan makan saja. Kita bisa membicarakan ini nanti. Aku harap kamu mau menerima Fredric sebagai suamimu, Mathilda. Bahkan kalau sekarang belum… aku akan menunggu sampai kamu siap.”
Aku terdiam.
Pikiranku kacau.
Semua terasa terlalu cepat.
Terlalu berat.
Nyonya Rosa kembali makan dengan tenang, seolah tidak ada yang terjadi.
Sementara aku hanya bisa menatapnya… dengan hati yang bergejolak.
Tuhan…
Mama…
Apa yang harus aku lakukan sekarang?