3

POV Mathilda

Aku lebih memilih tetap di rumah daripada pergi makan siang hari ini.

Perlakuan Fredric hanya akan membuat semuanya semakin menyebalkan. Dia tidak pernah memandangku dengan baik sebelumnya. Bahkan tadi dia mengatakan aku harus mengubah penampilanku agar menjadi seperti supermodel zaman sekarang.

Menyedihkan.

Aku mengagumi Fredric. Dia adalah cinta pertamaku. Sejak kecil hingga sekarang aku berusia 23 tahun, kami sudah sering bertemu. Meski begitu, dia selalu bersikap dingin dan tidak pernah menyapaku.

Tapi itu wajar. Siapa yang mau menyapa wanita aneh dan kutu buku seperti aku? Wajah penuh jerawat, tubuh sangat kurus, dan rambut keriting seperti ini yang membuatku terlihat sama sekali tidak menarik.

“Bagaimana kabarmu sekarang, Mathilda? Semuanya baik-baik saja?” tanya Nyonya Rosa, membuyarkan lamunanku. Aku tersenyum dan menjawab, “Ya, semuanya baik.”

“Bekerja sebagai kasir itu tidak sulit. Kecuali kalau kamu jadi direktur perusahaan besar, itu baru bikin pusing,” komentar Fredric. Ya, tiba-tiba dia ikut dalam percakapan kami. Aku tidak tahu kenapa dia begitu membenciku.

Seingatku, aku selalu bersikap baik padanya. Apa dia tahu kalau aku menyukainya?

“Aku mengerti, Fredric memang sedang sibuk akhir-akhir ini. Banyak pekerjaan membuatnya tertekan. Bahkan semua orang di rumah juga sering mendapat komentar sinis darinya, jadi jangan terlalu dipikirkan. Semua pekerjaan itu sama, selalu ada tekanan dan tanggung jawab,” kata Nyonya Rosa. Wanita paruh baya itu terlihat canggung dan merasa bersalah saat cucunya menjawab seperti itu.

Kami bertiga hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Aku yakin ibuku pasti sangat kesal mendengar ucapan Fredric.

Ibuku pernah bilang bahwa Fredric memang selalu dingin dan sedikit pemberontak. Tapi aku tidak menyalahkannya. Hidupnya tidak semudah yang dibayangkan orang.

Meski begitu, pesona dan sikap dinginnya padaku justru menjadi daya tarik yang tak bisa kuabaikan. Apa salah jika gadis tidak populer sepertiku mencintainya diam-diam?

“Baiklah, nenek, aku tidak ingin mengganggu acara ini, tapi sore ini aku ada janji dengan Paula. Aku ingin bertemu dan pergi bersamanya, masih lama? Dia sedikit tidak sabar karena aku harus menemaninya ke agensi model, dia akan ikut audisi.”

Fredric menatap neneknya. Dia tidak mengatakannya dengan keras, tapi telingaku menangkap semuanya. Orang tuaku sepertinya tidak mendengar percakapan itu.

“Siapa Paula?” tanya Nyonya Rosa.

Ada rasa penasaran yang tiba-tiba memenuhi dadaku. Selama ini Fredric sering berganti pasangan, tapi entah kenapa kali ini aku ingin tahu siapa Paula. Mungkin karena aku mendengar percakapannya.

“Nanti akan aku kenalkan. Bisa percepat makanannya, nenek?” keluh Fredric. Wanita itu pasti sangat istimewa. Andai saja wanita itu adalah aku… ah, khayalan seperti itu tidak pantas untuk gadis aneh sepertiku.

Mataku yang tadi tertuju pada mereka langsung beralih ke makanan saat Fredric menoleh ke arahku. Sial, pasti dia mengira aku penguntit.

“Baiklah, Goyle, kalau tidak keberatan, setelah ini aku ingin ikut denganmu. Maksudku, kamu bisa mengantarku pulang. Fredric harus pergi untuk urusan penting. Tidak masalah, kan?” tanya Nyonya Rosa pada orang tuaku.

Tentu saja orang tuaku setuju. Tak lama setelah itu, Fredric berdiri dan pergi meninggalkan kami. Bahkan tanpa berpamitan. Wajahnya sangat dingin. Tapi aku yakin, di dalam hatinya, dia sedang bersemangat karena akan bertemu wanita yang dia cintai.

Kadang aku berpikir, kenapa hidup begitu tidak adil? Jika aku tidak bisa mendapatkan pria impianku, tidakkah Tuhan bisa memberiku sedikit kebahagiaan melalui kebaikan-Nya?

**

Paula.

Tidak!

Nama itu menghantuiku.

Rasanya hari ini adalah hari terburuk dalam hidupku sejak aku menjadi pengagum rahasia Fredric. Kenapa nama itu begitu menggangguku? Lebih parah lagi, aku mencoba mencari tahu siapa Paula lewat media sosial, tapi tidak menemukan apa pun.

Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Seharusnya aku sudah tidur, besok aku bekerja pukul tujuh. Sial, pikiranku tidak bisa berhenti mengingat tatapan dingin Fredric dan nama wanita itu!

“Sayang!”

Suara melengking dari kamar orang tuaku langsung menghancurkan semua pikiranku tentang Fredric.

“Ada apa, Ma… MAMA!”

Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku. Ibuku tergeletak di lantai dengan busa keluar dari mulutnya. Kakiku terasa lemas.

“Telepon ambulans sekarang, hubungi rumah sakit, Mathilda!”

Aku mengangguk dengan air mata yang terus mengalir. Aku segera menelepon bantuan untuk menyelamatkan ibuku. Syukurlah aku masih bisa berbicara dengan jelas, jadi semuanya berjalan cepat.

Ayahku terus menangis sambil memeluk ibu. Aku sangat takut sesuatu yang buruk telah terjadi. Apa yang telah ibu konsumsi?

Aku terduduk lemas di lantai di dekat telepon. Bahkan saat ambulans datang dan mereka mulai mengangkat tubuh ibu, aku masih di posisi yang sama.

“Mathilda, ayo.”

Ayahku menggenggam tanganku dengan wajah bengkak.

Ambulans melaju cepat saat kami bahkan baru saja melihat Nyonya Rosa di halaman rumah kami.

“Kenapa ibu jatuh?”

“Itu yang sedang aku coba pahami. Ibumu keluar dari kamar mandi lalu jatuh dengan mulut berbusa. Apa lagi yang bisa kulakukan selain berteriak?” jawab ayahku.

Mobil melaju kencang, percakapan kami terhenti, dan suasana menjadi sunyi.

**

Kami duduk di depan ruang ICU dengan panik. Sudah hampir setengah jam tanpa kabar dari dokter atau perawat.

Tanganku mulai sakit karena terus kugenggam untuk meredakan rasa panik.

“Ibu akan baik-baik saja, kan, Ayah?”

Aku tidak tahu sudah berapa kali menanyakan hal itu sampai ayahku tidak lagi merespons.

Seolah menjadi jawaban atas pertanyaanku, pintu ruang ICU tiba-tiba terbuka dan seorang dokter keluar. Aku dan ayahku langsung berdiri dan menghampiri pria berkacamata itu.

“Bagaimana kondisi istri saya?” tanya ayahku.

Dokter itu menatap kosong lalu menggeleng. Ayahku langsung berlari ke dalam ruangan ICU, sementara aku hanya bisa meraih tangan dokter itu.

“Tolong jelaskan! Apa yang terjadi? Aku tidak mengerti ekspresi Anda!”

“Ibumu meninggal karena overdosis obat tidur.”

Jawaban itu membuatku melepaskan genggaman tangannya. Aku jatuh terduduk lemas.

Benarkah ibuku sudah meninggal?

Kenapa semua ini terjadi, Tuhan?

Sigue leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la APP
Explora y lee buenas novelas sin costo
Miles de novelas gratis en BueNovela. ¡Descarga y lee en cualquier momento!
Lee libros gratis en la app
Escanea el código para leer en la APP