Bab 585. Tidak
“Kamu diapain?” tanya Mas Suma menyambutku ketika membuka pintu kamar. Ini berarti selama aku berbincang dengan Nyonya Besar dia bersiap di depan sini.
“Ngobrol saja. Mami kangen sama aku,” ucapku sambil bergegas ke belakang. Aku mencari Bik Inah.
Sekarang gilirannya menemani mertuaku untuk melanjutkan tugas seperti biasanya. Pijit. Ini sudah seperti syarat wajib kalau Mami berkunjung. Sentuhan tangan Bik Inah di kedua kaki menjadi rutinitas.
Bukan Mas Suma kalau dia sabar menunggu. Tanganku