Keesokan paginya.
Seluruh Grand City diselimuti kabut tebal. Jarak pandang hanya 30 kaki, dan udaranya sangat lembap. Bernapas saja sudah sangat tidak nyaman.
Ketika Harvey terbangun, dia melihat Clarion duduk dengan tenang di sofa di ruang samping. Ekspresinya terkadang berubah, seolah-olah dia sedang berpikir dan menunggu. Dalam benaknya, dia berdebat dengan dirinya sendiri.
Harvey memandang momen ini dengan rasa ingin tahu. Wajar bagi seorang berdarah biru untuk tahu cara menikmati hidup.