Elanor tersenyum tipis saat melihat Harvey mulai tenang.
Dia melirik Harvey dengan tatapan mendalam di wajahnya, dan berkata pelan, “Harus kuakui, kau sangat berani. Segala sesuatu yang kau lakukan tidak biasa.”
"Kau menantang maut ke Taman Amal sendirian, lalu kau mempermalukan Tuan Muda Bauer sebelum menembak lengannya."
"Apa kau tidak takut dia menyerang?"
Suara Elanor sepertinya menjadi sedikit lebih dingin.
"Apa aku harus menyebutmu sembrono atau berani?"
Sedikit kemarahan bisa terlih