”Makhluk yang tidak bisa aku lewati?”
Plak!
Harvey menampar Cam, kemudian menamparnya sekali lagi dengan punggung tangannya.
Tamparan itu terdengar sekeras Guntur di dalam dojo yang kosong.
“Aku melewatimu. Apa yang akan kau lakukan?”
Tamparan tersebut membentuk dua jejak telapak tangan di wajah Cam.
Tapi Harvey tidak berniat untuk berhenti. Dia mengayunkan tangannya ke wajah Cam dua kali lagi.
“Kau pikir kau siapa?”
“Kau, mengancamku?”
“Kau tidak ada bedanya dari anjing liar di mataku,