Sesaat kemudian, pendeta berseragam masuk. Beberapa dari mereka melambai-lambaikan salibnya. Bahkan ada yang membawa cawan berisi air suci, untuk diminum Brayan.
Cahaya redup terlihat di dahinya setelah itu. Dia dengan cepat sadar kembali.
Meski begitu, Brayan yang biasanya tinggi dan perkasa itu bermandikan keringat dingin. Seluruh tubuhnya menggigil. Jelas sekali betapa besar ketakutan dan rasa sakit yang dia hadapi.
Amora tiba-tiba teringat perkataan Harvey.
“Dia tidak akan bisa tidur di