POV Mathilda
"Mathilda! Hei! Bangun!"
Suara Fredric memotong tajam kesadaranku yang masih setengah mati. Kelopak mataku terasa sangat berat, kepalaku berdenyut seolah dipukul palu godam.
"Mathilda! Apa kau tuli?!"
Nada marahnya memaksaku membuka mata. Aku mengerjap, berjuang untuk fokus, dan langsung disambut oleh wajahnya yang geram.
"Y-ya, Tuan Fredric…"
"Kita sudah sampai, dasar pemalas! Pergilah tidur di rumah kalau mau!"
Sinar matahari New York yang cerah membanjiri jendela pesawat jet itu